Masih di tanggal 10, dan aku sudah menyelesaikan target Juli belajar di Duolingo.
![]() |
| Semangat terus.. |
Chayoo..
haii .
Aku kembali belajar di duolingo.. semoga bahasa inggris ku makin baik dan makin lancarr.
Semangatt..
Bersama seseorang aku pernah merasa begitu lapar. Bahkan aku rela makan nasi pakai kecap sangking laparnya.
Tapi orang itu tidak memberiku makan, dia hanya memintaku untuk menunggu. Sampai akhirnya aku sudah tak lapar lagi dan dia datang terlambat membawakanku nasi rendang.
Aku sudah sakit, selera makanku sudah hilang, hal yang dia perjuangkan untuk membawakanku nasi rendang, sudah sia2 dan tidak akan kumakan lagi.
Orang itu sudah ku tinggalkan sejak lama.
--
Lalu bersama seseorang aku pernah begitu haus, dan aku ingin dia membawakanku air kelapa.
Dan lalu dia langsung mengambilkan segelas air putih yg sejuk.
Dia bilang, sebelum mencari air kelapa, setidaknya hilangkan dulu dahaga dengan air putih.
Dia tidak memintaku menunggu, dia langsung membawakanku air putih. Meskipun tidak sesuai dengan permintaanku, tapi setidaknya dia tidak membuatku sakit dan kehilangan selera untuk minum.
Orang yang membawakan air putih itu, hari ini sudah menjadi suamiku.
---
Yang ku tuliskan ini bukan hanya cerita tentang rasa lapar dan haus.
Tapi tentang penantian seorang wanita.
Wanita tidak butuh menunggu lama, meskipun di masa depan dipersembahkan intan permata.
Wanita hanya butuh kepastian di depan mata, walaupun yang tersaji hanya sebuah tanggung jawab penuh seorang laki-laki.
Dulu, aku minta kamu untuk pergi.
Karna kufikir aku sangat mencintaimu.
"Dengan kamu pergi sekarang, maka yang ada di ingatanku adalah hal indah tentangmu saja. Jadi aku tidak akan membencimu, aku hanya akan menganggapmu sebagai kenangan yang terindah"
Tapi ternyata yang terjadi adalah kebalikannya. Saat aku berpisah denganmu, yang paling kuingat dari sosokmu adalah laki-laki bodoh yang selama menjalin hubungan denganku selalu menyakiti perasaanku.
Saat itu kukira aku benar, ternyata aku sudah salah sejak awal.
Salah satu pertemuan, perkenalan, dan pertemanan terbaik dalam hidup adalah ketika kita bisa memperbaiki kehidupan menjadi lebih berkualitas, akibat efek dari pertemuan tersebut.
Well, suamiku sering bilang kalau kita (aku dan suami) ini orang baik, dan kelak di masa depan kita pasti akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik juga.
Dann.. entah ini suatu pertanda, atau kebetulan semata. Lewat komunitas mobil terbaru yang diikuti suamiku baru-baru ini, aku dipertemukan dengan oran-orang baik yang baru.
mereka adalah orang-orang yang entah kenapa, secara materi jauh di atas kami. Hidup dengan baik dan layak, juga... menampilkan sisi keluarga yang baik dan harmonis.
=
Aku masih dalam tahap beradaptasi dengan diri dan lingkungan sendiri saat sedang berkumpul dengan mereka.
Mereka adalah para senior, bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah jauh lebih dulu merasakan kehidupan -asam garam- dibanding kami.
==
Dari mereka aku terpacu agar bisa hidup lebih baik.
Khususnya tidak membuang waktuku untuk hal yang sia-sia, yang selama ini malah giat aku perjuangkan.
Semoga Takdir Allah, menuntunku dan suamiku untuk bertemu keluarga-keluarga yang lebih keren dalam hal memberi motivasi kehidupan untuk kedepannya.
Amiin Ya Robbal Alamiin...
Beberapa hari ini ada suara orang ngaji dari masjid yang akupun kurang tau, itu ngajinya Live atau Kaset rekaman.
Yang jelas, suaranya sangat berisik dan sama sekali tidak enak di dengar.
Kebetulan jarak rumahku dengan masjid sangat dekat, hanya beberapa meter saja.
Kalau berjalan kaki saat azan berkumandang, maka sebelum azan selesai, maka
kaki sudah sampai di atas sajadah bagian dalam masjid.
Well, sebagai seorang muslim jujur saja saya tidak mungkin
tidak suka mendengarkan lantunan ayat suci Al-qur’an.
Saya suka, bahkan sangat suka khususnya surat Yasin, surah yusuf dan surat
maryam.
Kalau memang memiliki kemampuan dan waktu untuk menghafal, demi keluarga yang
saya cintai. Saya akan menghafal ketiga surat Al-Qur’an tersebut.
Tetapi entah kenapa beberapa hari ini sebelum azan sholat fardu, beberapa menit sebelumnya, Toa masjid dekat rumahku selalu memperdengarkan lantunan ayat Qur’an yang berbeda dari biasanya.
Cara membacanya seperti sedang Tilawah, tapi suara dari yang
membacakan ayat sangat ngotot dan memaksakan. Panjang pendek dalam membaca,
dibuat sangat tertekan seolah tenggorokan sampai mau keluar.
Ditambah sound di Microfon yang serak dan kencang tak sesuai. Yang seharusnya
hati tenang ketika mendengar bacaan Al-Qur’an, tiba-tiba saja merasa emosi dan
terganggu.
Sejujurnya saya juga kurang faham, tata cara membaca
Al-Qur’an yang seharusnya apakah harus lantang dan ngotot begitu, ataukah harus
dengan perasaan tenang dan ikhlas.
Yang jelas, kalau mendengar bacaan Al-Qur’an dari Ustadz Hanan Ataki, atau Basalamah,
Mereka terdengar sangat tenang, tidak lebay dan panjang
pendeknya itu pas.
Tanpa menghakimi siapapun, saya memohon ampun pada Allah.
Seseorang yang tidak paham ilmu agama saja, pasti bisa
menjabarkan, jika membaaca Al-Qur’an adalah sesuatu yang sakral dan suci. Harus
dilakukan dengan hati yang iklas dan tenang.
Bukan harus lantang di depan Microfon, yang malah terkesan pamer..
Wallahu’alam..
Seperti halnya juga ibadah kepada Allah, Ntah itu Sholat, Puasa, Berzikir dan sebagainya. Semua itu adalah sesuatu yang harusnya dilakukan dalam diam dan ketenangan. Kalau bisa itu hanya diri kita dan Allah saja yang tau.Saat sudah mau masuk subuh hari, aku bermimpi berkunjung ke rumah Mbah Putri. Merayakan hari raya disana.
Rumahnya sangat rapi, resik dan bersih seperti suasana saat mbah masih ada dan tinggal disana. Beberapa sanak saudara ada disana, tapi aku tidak tau persis siapa saja.
Aku melihat meja kayu tempat mbah meletakkan magic com
penanak nasi. Meja yang rapi dan enak dipandang. Mbah putri duduk di sana,
dengan wajah sendunya dan cepol rambut khasnya yang bulat disanggul di tengah.
Rambutnya putih diseling beberapa helai yang hitam.
Bajunya kebaya cantik yang menggambarkan lekuk tubuh mbah yang cantik khas
gitar spanyol mbak-mbak jawa.
“Mbahh... betapa rindunya aku.. taukah mbah banyak sekali yang berubah dari rumah ini saat mbah sudah pergi, untuk sekedar menginjakkan kaki di lantainya saja aku sudah tidak bisa. Hanya mengunjunginya dalam mimpi seperti ini”.
Aku menyalam tangannya, mencium punggung tangannya dan lalu
memeluknya seolah mbah putri masih hidup disana.
Aku lihat lehernya yang sedikit panjang, tapi itu tidak membuatku takut, karena
aku merindukannya.
Lalu di sisi yang lain aku bermimpi kiosku lagi, aku melihat pintunya berubah, pintu kayu bercat putih yang bagian kuncinya sudah dicongkel orang lain.
Aku melihat isinya yang sangat mirip dengan isi kios saat
aku masih jualan dulu.
Bahkan Rak stiker itu masih ada disana.
Aku takut seseorang masuk dan mencuri sesuatu dari sana. Aku mengintipnya ke dalam dan seketika rasa
rindu akan tempat itu memenuhi pikiranku.
Entah karena alasan apa aku tidak bisa kembali kesana. Tapi aku sedih, seolah itu bukan salahku.
Dan saat tidur siang mimpi itu kembali berlanjut. Rumah itu tampak nyaman karena bersih dan rapi, ada widy dan bik linda yang sedang berlebaran di rumah itu bersama mbah putri. Aku ingat saat hari raya aku tertidur di pojok sana, sambil merasa nyaman. Ingatan itu bercampur dengan pengelihatan yang nampak dalam mimpi.
Di sudut perasaan yang lain, aku tau, rumah itu sudah
sepenuhnya berubah. Bukan milik keluarga kami lagi, aku melihat giawa dan malah
merasa segan padanya.
Aku masuk pintu rumah itu dengan mudah, dan mengintip ke dalam kamar mbah.
Semuanya masih terlihat sama. Letak tempat tidur, lemari dan semua printiannya.
Aku bahagia melihat itu meski hanya dalam mimpi.
Segoblok gobloknya manusia, kayaknya gw termasuk yang tergoblok deh. Gimana enggak, jelas-jelas gw lihat dengan mata kepala gw sendiri kalau ibu kandung gw itu percaya sama dukun. Sampai ditipu oleh dukun -puluhan juta- dengan dalih bisa menjemput harta gaib dari negri Jin. Hohoho..
gw bisa ngakuin ini dengan santai, karena pada akhirnya ibu gw sadar sendiri kalau dirinya telah ditipu dengan omong kosong dari sang dukun tersebut.
--dan itu kejadiannya kurleb 2 tahun yang lalu sebelum bokap gw meninggal.
sampai akhirnya nyokap gw yang percaya dukun itu, -belum genap setaun- kawin lagi sama tua bangka bau tanah.
yah.. tanpa rasa bersalah gw malah lebih nyaman menyebut suami nyokap sebagai tubang daripada harus memanggilnya bapak.
setelah satu persatu motif dari pernikahan tersebut terungkap, akhirnya gw makin merasa diri ini goblok. karena dengan sengaja membiarkan nyokap nikah sama laki-laki tua, yang cuma mikirin dirinya sendiri. ya, meskipun nyokap juga nikahin tu lakik biar dapat warisan tanahnya aje.
--hingga kejadian hari ini, gw mual campur mau muntah karena sejak hari senin -sekarang hari kamis- rumah gw kedatangan laki-laki yang mukanya kayak babi aer. #ups
tanpa rasa gak enakan, gw nganggep laki-laki yang datang kerumah sebagai babi aer. Karena selain wajahnya yang *jeleknyademiapasumpahmampusjelekbangetnauzubillahh*
tingkahnya juga tidak tau malu.
nyokap gw yang udah bersuamikan tubang memang tidak tinggal serumah dikarenakan satu lain hal.
so, hal itulah yang dimanfaatkan sama si babi aer untuk sering datang kerumah buat pedekate sm nyokap gw.
dan lagi-lagi gw merasa goblok sebagai anak, karena walaupun gw tau niat jelek dari si babi aer, tapi gw tetep diem aja nanggepin.
si babi aer ngungkapin cintanya sm nyokap gw via whatsaap dan itu terbaca sm gw. dia datang kerumah berlagak manusia plonga-plongo, tapi saat ada kesempatan maka dilancarkannyalah itu jurus2 memikat nyokap gw.
yang gw gak suka babi aer selalu numpang makan seolah dia ada ngasih andil untuk belanja makanan di rumah ini.
trus gak tau waktu kalau malam bukannya langsung pulang, tapi ngejogrog di ruang tamu berjam-jam.
gw selalu jijik lihat muka si babi aer, suami gw juga kalau pulang kerja jijik lihatnya, karena kalau ditatap suami gw dia pasti nunduk ketakutan, seolah punya salah.
mungkin sadar mukanya emang jelek si babi aer juga gak berani ngomong sama orang-orang dirumah ini selain sm nyokap gw, pujaan hati incarannya.
yang gw sesalkan sih, nyokap gw jg nanggepin, gk nyadar kalau dirinya itu punya suami. walaupun seorang tubang yang tinggal jauh disana, secara agama nyokap itu sama sekali gak boleh dong berhubungan sama laki-laki lain tanpa seizinnya. itu tuh suami sahnya loh..
Hade...hh...
...
Sekian dulu unek2 gw hari ini.
gw yang goblok ini setidaknya sudah merasa lega bisa meluapkan -bom di hati (yang bisa meledak kapan saja ini)- disini.
Impian adalah sesuatu yang dulu aku pernah punya, tapi –perlahan seiring waktu- hari ini telah hilang entah kemana.
Mungkin karna kehidupan memasuki fase selanjutnya, yaitu fase menjadi orang tua. Hal yang dulunya kuperjuangkan sebagai impian yang ingin dicapai. Hari ini impian itu hilang, berubah menjadi sebuah harapan saat melihat sosok anak cantik yang kusebut ‘putriku’.
Tadi malam bapak tiriku datang, bawa ikan sebesar piring.
Entah harus menyebutnya pulang kerumah ini, atau datang kembali. Yang jelas setelah sebulan lebih menikah dengan mama, bapak tiriku baru kali ini datang lagi. Karena sebelumnya sudah pulang ke kampung.
=00=
Dan malam ini aku tidak tidur, karna aku tidak mau tidur. Mungkin akan begadang sampai besok pagi. Ya.. sekali2 gapapa khan.
Something Important Happend today.
But, i just hear my husband, and follow her only.
Dosa, Let her and God is know,right!
Sampai jam menunjukkan 2 siang, aku masih enggan tidur,
walau-walau mereka semua sudah pergi ‘keluar dari rumah –ke suatu tempat’.
Rasanya sayang meggunakan waktu yang ada hanya untuk tidur.
Secara laptopku sudah diperbaiki, hidupku sudah mulai rapi dan membaik sedikit demi sedikit.
Aku mendownload Lagu, mendengarkan banyak lagu, dan menggambar sambil mewarnai, dan menonton tiktok, dan menonton banyak film, dan membereskan seluruh rumah, dan merawat anak, dan belajar Duolinggo, dan juga menulis cerita. Kebanyakan hal yang tidak mengandung unsur agama. Tapi bukan sebuah Dosa dan juga kesalahan fatal yang merugikan siapapun, fikirku !
Entah apa yang sedang kukejar, dan apakah tujuanku melakukan semua itu. Aku melakukannya karena aku ingin melakukannya, yang jelas itulah alasanku, tak ada yang lain.
Jika aku memiliki Dosa terhadap diriku, seperti tidak menutup aurat, maka itu adalah urusanku dengan Tuhanku.
Tapi jika seorang manusia yang bahkan bukan siapa-siapa menghakimi karna aku tidak menutup aurat. Maka itu bukan sepantasnya dilakukan.
Karna itu hanya akan membuatnya ikut berdosa atas dosa orang lain yang tidak merugikan dirinya sendiri.
Jadi, untuk menyikapinya aku hanya mengabaikannya saja.
Dosaku adalah urusanku dengan Tuhanku.
Tapi akibat dari orang lain mengurusi Dosaku, maka itu akan menjadi dosanya terhadap Tuhannya.
Well, begitulah !
Setiap kali bangun tidur, pikiranku selalu keganggu dengan apa yang telah orang ‘jahat’ lakukan terhadapku.
Rasa Cemas, Kesal, benci, takut dan marah bercampur jadi satu.
Begitu membuka mata, aku berfikir “Hal gak enak apa yang
kurasakan kemarin”, seperti diancam sama kakak ipar, kehilangan benda yang
kujaga selama ini, dimaki oleh suami, dihina oleh ibu dan saudaraku sendiri.
Perasaan semacam itulah hal pertama yang kurasakan di pagi hari , saat baru
terbangun dari tidur.
Sulit menjelaskannya, tapi kira-kira begitu.
Aku cukup terganggu dengan keadaan semacam ini akhir-akhir ini.
Jika ini sebuah diagnosa gangguan jiwa, apakah namanya ?
Satu-satunya hal positif yang bisa meredam perasaanku adalah
putri kecilku yang pintar. Itupun terkadang kulampiaskan kekesalanku padanya
yang tak tau apa-apa.
Aku tertekan akan hal-hal sepele yang terjadi disekitarku.
Kalau ada hal atau sesuatu yang membuatku tambah bodoh dan idiot di dunia ini, maka hal itu adalah Ibu Kandung, saudara sepupu perempuan dan juga suamiku sendiri.
Di dekat mereka aku akan semakin bodoh, idiot dan kehilangan diriku.
Kau tau kenapa ?
‘Karna aku sendiri tak bisa mengendalikan diriku, dan tak punya kuasa atas diri sendiri jika sedang berada disekitar mereka'
Aku membenci itu, tapi tak ada jalan keluar.
Mungkin, hanya kematian.
Karna mati artinya sendiri.
dan Kesendirian itu sendiri adalah sebuah kebebasan bagi diriku.
-
Mereka itu merepotkan
Mengatur hidupku
dan membuat hal-hal baik dan positif dalam pikiranku itu menjauh.
Setiap langkah itu ada jejaknya, karena nya harus hati-hati dan berfikir dulu sebelum melangkah.
@CherryAlfitra
🌹🌹🌹🌹🌹
Di masa masih punya usaha, saya kenal dengan seorang bapak-bapak yang kerjanya kurir cetak foto.
Dari bapak itu, beberapa tahun saya jadi langganan, karena usahaku tidak dilengkapi kendaraan, jadi tidak bisa cetak foto sendiri langsung ke fuji color atau Kodak.
Dan hari ini tanpa direncanakan saya singgah ke tempat pak henhes lagi.
Sekarang udah usaha jualan miso dan gorengan. Tidak cetak foto lagi.
Dan saya juga begitu. Sudah tidak buka usaha lagi. Dengan penuh kesedihan saya membuang impian saya kala itu. Perkara rumah sepetak dan keserakahan saudara.
Ah sudahlah, terlalu panjang untuk kubahas kembali.
Di tempat itu, anakku mainin kamera hp dan menjepret beberapa gambar secara estetik meskipun tidak sengaja.
![]() |
| Terpal alas |
![]() |
| Gelas |
![]() |
| Tusuk gigi BW |
![]() |
| Bungkus chetos |
![]() |
| Tusuk gigi Sepia |
Beberapa tahun yang lalu aku sempat gak sengaja nonton film dewasa dari Thailand yang berjudul The Gigolo -2
![]() |
| Ini Poster filmnya |
![]() |
| ini posternya |
![]() |
| Mario Maurer, Yang waktu aku gogling ternyata usianya sudah 35tahun. Sungguh wajahnya paripurna sekali. Para Wanita Yang nonton film Jan Dara ini pasti matanya termanjakan oleh wajah polosnya. |
![]() |
| Kalau ini temannya si Mario dalam film Jan, namanya New Chaiyapol Julien Poupart. Usianya sekarang 34tahun, dan dia seksi sekalii.. Mata para wanita yang melihatnya bisa-bisa terbakar. haha |
Sebelum menikah aku adalah seorang putri yang dimanja.
Dimanja dalam arti tidak pernah merasakan kekurangan harta, meskipun tidak bergelimangan tapi setidaknya kebutuhanku terpenuhi.
Selama menginjak usia kepala 2, aku selalu mampu membeli kebutuhan pribadi seperti bedak dan assesories.
Malah barang-barang seperti skincare adalah hal remeh yang mampu terbeliku dengan mudah.
Akupun tak pernah memikirkan 'hal umum' yang biasa dipikirkan wanita soal "Masak apa besok?", "Belanja apa besok?"
Karna dirumah, mama selalu belanja dan menyiapkan masakan untuk kami sekeluarga.
Tapi selama menjadi putri yang seperti itu, aku sering merasakan ada satu hal yang mengganjal. Selama masih gadis, aku selalu merasa kesepian dan tak punya teman.
Waktuku sepanjang hari adalah sebuah kesendirian yang berharga.
Sampai akhirnya seorang laki-laki hadir dan masuk ke dalam hidupku.
Bersamanya, hidupku tak lagi kesepian.
Aku seolah punya parter dalam hidup, dan dia mulai menjadi bagian dalam hidupku.
Laki-laki itu, tak butuh waktu lama sampai akhirnya menyandang status sebagai suamiku.
Tapi ada satu hal. Suamiku bukan orang yang berharta.
Sejak memulai hidup bersamanya, sosok putri yang dimanja yang selalu terpenuhi kebutuhannya, otomatis tak ada lagi.
Aku mulai kekurangan uang, karna orangtua telah memindahkan tanggung jawabnya pada suamiku.
Sampai pada titik, untuk makan saja aku tidak bisa beli.
Setiap hari aku mulai berfikir "mau masak apa?" dan "belanja habis berapa?"
Aku mulai berfkir bagaimana cara hidup hemat, yang sebelumnya tak pernah kulakukan.
Tapi bahan makanan semuanya mahal, kalau berhemat maka aku harus belanja seadanya. dan kalau belanja seadanya maka aku akan kekurangan gizi.
Haahhh..
Kenapa hidup ini seperti itu.
Mungkin aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri.
Tapi kenapa semuanya tidak berjalan sesuai porsinya saja.
Di satu sisi puas, disisi lain kurang. di satu sisi kurang, di sisi lain terpuaskan.
Tidak bisakah terpuaskan dalam segala sisi.
Tipe idealku sejak masa remaja itu adalah seorang cowok berkulit putih dan berbadan tinggi.
Well setidaknya harus lebih tinggi dariku
10cm.
Yang kalau bisa karakter wajahnya seperti orang amerika (ras kaukasoid)
![]() |
| Ras Kaukasoid |
Dan alhamdulillahnya, aku sudah menemukan seorang cowok dengan tipe fisik seperti itu. Meskipun tidak bermata biru, tapi kalau kena sinar matahari, matanya berwarna coklat muda.
Lebih Bersyukurnya lagi, laki-laki itu sekarang sudah menjadi suamiku.
Jauh sebelum aku bertemu dengannya, sebenarnya aku sudah
pesimis duluan.
Karna aku yang kulitnya penuh bekas luka ini, mana mungkin mendapatkan cowok
yang kulitnya putih seperti orang bule. Mana ada cowok yang mau, begitu
pikirku.
Tapi hari ini, dia sudah jadi suamiku. Tinggi badannya 1,75 cm, dan meskipun bukan putih cerah, tapi kulitnya kuning langsat dan bersih.
Bahkan ketika memutuskan ingin menikah, ada satu pembicaraan
antara aku dan papa. Soal apa yang kusukai dari calon suamiku ?
dan dengan PDnya aku bilang sama papa. “dia tipe cowok idealku secara fisik”.
Sebenarnya kalau bukan karna tingkah laku dan wataknya, dia
akan menjadi sosok sempurna di mataku. Tapi begitu sudah menikah dan melalui
setiap hari bersamanya, ada beberapa sifat dan karakter memuakkan yang kerap
dinampakkannya.
Hal itu terkadang, menutupi kesempurnaan fisiknya.
Jika aku sudah dibentak, wajah tampannya itu bahkan tak mau kulihat.
Karna masih dalam standart manusia, aku tau tak akan ada
yang sempurna.
Tapi beberapa kali aku bahkan sempat berfikir untuk konsultasi dengan psikolog.
Karna secara fisik sangat ‘tipe kesukaanku’. Tapi kenapa ada saat aku
berdekatan, bahkan bersentuhan dengannya, yang kurasakan bukan bahagia, tapi
malah hampa dan jijik.
Minimnya pengertian dan rasa peduli, membuatnya terlihat semakin jelek. Bukan fisiknya, tapi cacatnya perasaanku.
Pada dasarnya suamiku itu orang yang baik dan tidak pelit sama istri.
Tapi ada saat amarahnya keluar karena sesuatu yang dirasa sudah mengganggunya.
Contohnya malam minggu kemarin, Karna habis gajian, suamiku
mengajakku dan anak kami main keluar.
Sekalian ke ATM gesek duit, lalu makan mi ayam, dan ke MMTC (semacam taman
bermain anak/ pasar malam).
Sepanjang jalan-jalan, suamiku selalu bertanya, mau beli baju, mau beli sendal,
mau makan apa?, mau main apa?, sampai bertanya beli bedak apa ?..
Seolah semua gajinya memang untukku, aku yang harusnya senang diperlakukan
seperti ini, malah dengan sungkan menolak suamiku. Dengan bilang, ah gak usah,
ah gak perlu, yah masih ada kok kapan-kapan saja.
Well, bukan tanpa alasan aku menolak kebaikannya. Tapi ada
beberapa kejadian di waktu yang lalu, ketika suamiku gajian, membelanjakan ini
itu, dan sebelum hari minggu tiba, ketika uang itu sudah habis, maka dia akan
bertanya “loh kenapa cepat habis? Beli
apa aja?” seolah aku hanya menghabiskan uangnya.
Padahal yang kubeli adalah kebutuhan untuk perut, bukan untuk bergaya dan
bersenang-senang semata.
Aku tidak dendam, tapi hanya tidak bisa lupa. Aku yang tau kalau suamiku susah payah, bekerja sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Malah berboros-boros dengan beli jajan dan makanan ini itu.
Lalu di pasar malam itu, ada seorang bapak agak gemuk dan
pendek panjual poster ABC.
Aku yang merasa iba, sekaligus terbayang saat dulu masih jualan, aku juga
menjual poster yang sama.
Aku tau betapa sulit “Lakunya” menjual poster seperti itu. Karna itu aku
bertanya “berapa pak?” belum sempat membelinya, suamiku langsung menolak dengan
alasan “susah bawanya”.
Si bapak yang berjalan cepat menghampirku, dan menawarkan poster-poster itu
dengan antusias, akhirnya kutinggalkan begitu saja.
kejadian yang sangat remeh, tapi terus membekas dihatiku. Aku hanya iba dan
kasihan, apalagi bapak itu terlihat seperti orang yang tulus dan mirip bapakku.
Suamiku memang bukan orang yang berpendidikan, baginya
membeli poster-poster sampah seperti itu, hanya buang duit dan tak ada gunanya.
Tapi bagiku, barang seperti itu bisa membuat anakku pintar, mengajarkannya
alfabet, gambar-gambar dan berhitung.
Saat akan pulang, aku kembali ingin membeli gambar-gambar
itu, tapi si bapak sudah tidak terlihat lagi.
Bukan soal harganya, tapi manfaatnya. Padahal si bapak hanya menjual itu 5000
perlembar, sedangkan suami ku bahkan main lotre dan habis 40,000 tanpa hasil.
Miris sekali.
Terkadang, aku tak ingin
bertengkar dan berdebat untuk hal sepele. Tapi suami yang kurang ilmu
juga membuatku mau tak mau mengalah. Karna tidak ada gunanya merasa tinggi pada
seseorang yang bukan tandingan.
Satu-satunya yang bisa merubah suamiku adalah Doa dan Kelembutan, itu saja.
Mimpi itu lagi, rumah triplek warna biru yang dulu ada di samping rumah mbah pon.
Ada konser pasha ungu, ada iqbal disana, minta tanda tangan pasha ungu, dan memberikan tugas di bawah kertas lebaran Double Folio.
Aku masih melihat iqbal dalam sosok yang aku sukai. Rambut
pendek, wajah kecil dan rapi, tutur bahasa yang bisa kupahami.
Mengendara mobil berdua, dia yang bawa, aku disampingnya.
--
Pertanda apakah.
Di hati iqbal, aku ini masih hidup atau difikirannya sering mengingatku juga ?
Hari ini tanggal 27, Tanggal ulang tahun iqbal. Tanggal
ulang Tahun Papa dan juga Putri kecilku.
Apa ini hanya sebuah kebetulan.
Kebetulan di atas kebetulan.
==
Segalanya telah berlalu, tapi semakin aku ingin lupa, apapun tak bisa dibuang begitu
saja.
Tempat itu, orang-orang itu, dan kenangan itu, sudah terlanjur tersimpan dan
menyatu dalam diri.
Aku butuh kerjaan baru dan kegiatan baru, dan tempat yang
baru untuk memulai yang baru.
Kuharap, Tuhan membantuku. Amin