Bersama seseorang aku pernah merasa begitu lapar. Bahkan aku rela makan nasi pakai kecap sangking laparnya.
Tapi orang itu tidak memberiku makan, dia hanya memintaku untuk menunggu. Sampai akhirnya aku sudah tak lapar lagi dan dia datang terlambat membawakanku nasi rendang.
Aku sudah sakit, selera makanku sudah hilang, hal yang dia perjuangkan untuk membawakanku nasi rendang, sudah sia2 dan tidak akan kumakan lagi.
Orang itu sudah ku tinggalkan sejak lama.
--
Lalu bersama seseorang aku pernah begitu haus, dan aku ingin dia membawakanku air kelapa.
Dan lalu dia langsung mengambilkan segelas air putih yg sejuk.
Dia bilang, sebelum mencari air kelapa, setidaknya hilangkan dulu dahaga dengan air putih.
Dia tidak memintaku menunggu, dia langsung membawakanku air putih. Meskipun tidak sesuai dengan permintaanku, tapi setidaknya dia tidak membuatku sakit dan kehilangan selera untuk minum.
Orang yang membawakan air putih itu, hari ini sudah menjadi suamiku.
---
Yang ku tuliskan ini bukan hanya cerita tentang rasa lapar dan haus.
Tapi tentang penantian seorang wanita.
Wanita tidak butuh menunggu lama, meskipun di masa depan dipersembahkan intan permata.
Wanita hanya butuh kepastian di depan mata, walaupun yang tersaji hanya sebuah tanggung jawab penuh seorang laki-laki.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar